Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Tempat Wisata Indonesia Timur

Haloo sahabat mozz...
"Masa liburan enaknya ngapain?" pertanyaan itu yang ada dibenak mahasiswa UPRI, setelah final akademik seluruh mahasiswa akan liburan. Ada yang pulang kampung untuk menemui keluarga dan ada juga yang masih stay dikos menunggu masa kuliah aktif kembali.
Mozz akan memberikan saran tempat wisata yang harus dikunjungi dimusim liburan ini, khusus untuk wisata di timur Indonesia. Berikut tempat wisatanya...


1. Benteng Fort Rotterdam Makassar
Benteng Fort Rotterdam berlokasi di Jl. Ujung pandang makassar letak benteng ini ada dipinggir pantai sebelah barat kota Makassar, benteng yang dulunya ditempati pertahanan kerajaan Gowa - Tallo & Belanda.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

 Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.


2. Negeri diatas awan Toraja
Kampung Lolai, kecamatan kapalapitu, kabupaten Toraja Utara, Sulsel. Kampung ini memiliki gugusan pegunungan yang beberapa puncaknya bisa dijangkau dan saat berada di lokasi tersebut tersaji hamparan awan di sekeliling puncak pegunungan di Kampung Lolai tersebut.

Berada di puncak Lolai dengan hamparan awan yang terlihat lebih rendah dari puncak seolah kita berada negeri di atas awan. Gugusan awan putih yang dihiasi pancaran sinar matahari di balik awan menimbulkaan lanskap alam yang sangat indah di mata.

Beberapa rumah Tongkonan, rumah khas warga setempat juga berada di sekitar puncak Lolai. Deretan rumah Tongkonan di kampung ini dinamai Tongkonan Lempe. Teras Tongkonan bisa ditempati pengunjung bersantai sambil memuaskan diri menikmati hamparan awan putih bersama segelas kopi Toraja yang disajikan warga penghuni rumah Tongkonan tersebut.


3. Pulau komodo Flores
Pulau Komodo kini menjadi salah satu kejaiban dunia yang tak bisa kamu lewatkan. Seumur hidup sekali setidaknya kalian harus mengunjungi Pulau Komodo. Kawasan Pulau Komodo merupakan cagar alam yang merupakan bagian Taman Nasional Komodo.

Kehidupan komodo benar-benar dijaga di pulau ini. Meskipun komodo-komodo ini terlihat tenang, namun anda harus waspada karena komodo memiliki air liur yang memiliki bakteri mematikan. Saat melakukan trekking di Taman Nasional Komodo sebaiknya tetap mengikuti petunjuk dari para pemandu atar ranger agar bisa lebih berhati-hati dan bisa mengamati Komodo dari jarak dekat.


4. Nusa pombo Ambon
Nusa Pombo bisa ditempuh dalam waktu satu jam dari pelabuhan di Ambon dengan menggunakan speed boat. Pulau ini tidak berpenghuni, sehingga Anda sebaiknya membawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Jika ingin menginap, Anda bisa mendirikan tenda di sini. Jangan lupa membawa perlengkapan berkemah Anda dan bersiaplah melakukan petualangan di sini.
 
Berbagai kegiatan yang bisa Anda lakukan di tempat wisata di Ambon ini adalah berenang, menyelam, snorkeling dan trekking keliling pulau. Pulau Nusa Pombo dikenal memilliki alam bawah laut yang kaya sehingga menjadinya sebagai tempat menyelam yang menyenangkan.


5. Gunung tambora Bima
Gunung Tambora adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Yang tak bisa dilewatkan adalah keindahan yang bisa dinikmati di puncak Gunung Tambora, dengan pemandangan kawah, lautan, Pulau Satonda, padang pasir luas yang indah. Gunung Tambora termasuk salah satu gunung yang indah di Indonesia, tentunya dengan fenomena alam yang menakjubkan.
Itulah beberapa saran tempat wisata yang semestinya dikunjungi pada saat liburan, karena Indonesia dipenuhi dengan tempat-tempat yang indah. 




sumber:
http://wikipedia.org
http://makassar.tribunnews.com/2016/06/02/pesona-negeri-di-atas-awan-di-kampung-lolai-toraja-utara
http://m.liputan6.com/lifestyle/read/2511606/tour-de-flores-ini-12-tempat-wisata-menarik-di-flores
http://anekatempatwisata.com/10-tempat-wisata-di-ambon-yang-wajib-dikunjungi/

7 tarian mistis khas Sulawesi Selatan

 mozz fm newsSulawesi Selatan (Sulsel) memiliki beragam seni dan kebudayaan masa lalu yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, salah satunya dalam bentuk tarian.
Dari sejumlah tarian, ada beberapa yang tidak hanya sekedar hiburan semata, namun ada yang dilatari nilai-nilai supranatural.
Meski demikian, seiring perjalanan waktu aura mistik pada penampilan tarian tersebut sudah tidak terlalu terasa saat ini. Pasalnya dalam setiap pementasan tarian ini lebih menonjolkan sisi hiburannya.
Berikut adalah top 7 Tarian mistis khas Sulawesi Selatan.
1. Tari Pakarena  
Konon, tarian Pakarena berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (negeri khayangan) dengan penghuni lino (Bumi) pada zaman dahulu. Sebelum berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup, bercocok tanam, beternak, dan berburu kepada penghuni lino, termasuk etika pererempuan melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Selanjutnya, gerakan-gerakan itu pula yang dipakai penghuni lino sebagai ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi.
Dalam setiap pola gerakannya mencerminkan ekspresi kelembutan, kesetiaan, kepatuhan, kesantunan dan sikap hormat perempuan. Selain itu memiliki banyak makna tersendiri yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Misalnya posisi duduk sebagai bentuk gerakan hormat dan santun para penari. Gerakan memutar sebagai lambang siklus hidup manusia.
Pada tarian ini tiga sampai lima perempuan menyanyi sambil membawakan tari anggun ini yang berirama lambar dan diiringi dua gendang atau gondrong rinci yang terdiri dari 7 orang pemusik.
Gerakan dari tarian ini sangat artistik dan halus, bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Tarian ini terbagi dalam 12 bagian yang setiap gerakan memiliki makna khusus. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, mencerminkan irama kehidupan.
Seorang Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam.
Tari Pakarena diiringi alat musik berupa gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Makassar.
2. Tari Pepe-pepeka Ri Makka
Tari ini juga khas Makassar yang di dalamnya terdapat unsur fenomenal, yakni tubuh penari disulut api namun tidak terbakar, bahkan baju yang dikenakan pun tidak terbakar.
Tarian ini biasanya ditampilkan di acara-acara rakyat seperti upacara hajatan, sunatan dan perkawinan hingga perjamuan tokoh penting.
Tari Pepeka Ri Makka ini dilakonkan oleh beberapa laki-laki tua dan muda. Tari pepe-Pepeka ri Makka tidak mempunyai Mantera
khusus penangkal api. Namun mereka melakukan tarian ini sering diintreprestasikan penonton sebagai ucapan doa anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar.
Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka oleh para penari terdahulu.
Pada Puncak tarian, para pemain akan memegang Obor dan akan mengarahkan api ke tubuh temannya atau dirinya sendiri. Namun, tidak jarang pula penari mengundang penonton lalu di sulut menggunakan api. Dan uniknya mereka sama sekali tidak merasa Kepanasan atau melepuh terbakar. semua tampak seperti biasa saja.
3. Tari Maggiri
Tarian asal Kabupaten Pangkep ini memperagakan debus oleh enam bissu utama yang dipimpin oleh ketua bissu, sehingga kerap juga disebut Mabissu.
Mabbissu berasal dari kata bissu atau bessi yang berarti bersih atau suci dan kuat. Mereka dipanggil Bissu karena tidak haid, tidak berdarah, atau suci.
Bissu itu sendiri berjenis kelamin laki-laki namun sifat dan karakternya seperti perempuan dalam bahasa Bugis disebut Calabai. Komunitas bissu yang masih bertahan hingga saat ini, dalam lektur lama (epos La Galigo), dianggap sebagai manusia suci, keturunan para dewa dan dalam stuktur kerajaan di Sulsel, bissu merupakan penasihat spiritual dan rohani para raja.
Dengan diiringi tabuhan gendang berirama khas, penari melantunkan alunan mantra  mistis menggunakan bahasa To Rilangi (bahasa kuno orang Bugis) sambil menari memutar Arajangnge, benda yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat beristirahat ruh leluhur. Ketika alunan gendang semakin keras dan cepat, gerakan para Bissu pun semakin pelan dan mulai  kehilangan  kesadaran.
Pada saat itu, para Bissu mulai memeragakan gerakan maggiri, melepaskan keris panjang yang mereka selipkan dipinggang, kemudian menusukkannya ke tubuh  mereka.
Hal ini bertujuan untuk menguji apakah roh leluhur/dewata sudah merasuk ke dalam diri  mereka. Jika mereka kebal, berarti Bissu
itu dan roh yang merasukinya  dipercaya dapat memberikan berkat. Sebaliknya, jika badik melukai tubuh mereka, berarti yang merasukinya adalah roh lemah atau bahkan tidak dirasuki roh leluhur sama sekali.
4. Tari Pa’gellu’
Merupakan Tarian khas dari daerah Toraya yang dilakukan oleh gadis-gadis remaja dengan mengunakan berbaju putih dengan hiasan keemasan, dari kepala sampai sarung yang menutup rapat bagian tubuh sebelah bawah.
Penari juga memakai kalung manik-manik yang teranyam indah, dan memakai dua bilah keris di bagian depan.
Tarian yang disebut-sebut dari Pangala salah satu daerah di Kabupaten Tana Toraja ini, dulunya tidak sembarang ditarikan seperti sekarang. 12 Gerak langkah dasar, masing masing memiliki makna teologis dan spritual sebagai prosesing penyembahan seiring tertiupnya angin.
Gerakan tangan seperti burung yang terbang dengan tenang, sementara gerakan kaki menggambarkan perjalanan naik turun lembah dan bukit yang melukiskan keadaan alam Tana Toraja.
Genderang dan bunyi-bunyian yang mengikuti tarian itu bernada tinggi (monoton) arkais.
Selain itu ungkapan syukur terasa saat gerak putaran mata kaki menuju utara mensyukuri anugerah sang pencipta seiring bunyian gandang mewarnai pasang surutnya Kehidupan.
Apa yang terkandung dalam setiap gerakan dan irama musik yang mengiringanya dinilai sangat melekat nilai spritualitas Alukta, sebuat norma adat masyarakat Tana Toraja.
5. Tari Ma’badong
Ma’badong merupakan tarian kedukaan yang diadakan dalam upacara ritual kematian masyarakat Tanah Toraja.
Tarian ini dilakukan secara berkelompok pada umumnya oleh kaum pria, baik muda atau pun tua, namun wanita juga tidak dilarang.
Para penari (pa’badong) membentuk sebuah lingkaran dan saling mengaitkan jari kelingking sambil melantunkan syair dan nyanyian ratapan disertai gerakan tangan dan langkah kaki yang disesuaikan dengan irama lagu.
Dulu para ma’badong mengenakan kostum serba hitam namun seiring dengan perkembangan zaman, kostum yang dipakai tidak lagi berwarna hitam.
Penari Ma’badong bergerak dengan gerakan langkah silih berganti. Suasana malam itu menjadi tambah sakral ketika para penari melantunkan syair atau lagu kesedihan (Kadong Badong). Lantunan syair ma’badong ini berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do’a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam di alam baka.
6. Tari Ma’randing
Pada pemakaman besar (biasanya orang dengan kasta tinggi) di Tana Toraja, sebuah tari perang yang bernama Ma’randing dipentaskan. Para penari menggunakan pakaian perang tradisional dan senjata.
Kata ma’randing berasal dari randing yang berarti “mulia ketika melewatkan”, dan tari ini ditampilkan untuk memuji keberanian orang yang telah wafat semasa hidupnya.
Tarian Ma’randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman, dengan menampilkan beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, perisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya.
Tari ini menunjukkan kemampuan dalam memakai senjata militer dan menunjukkan keteguhan hati dan kekuatan seseorang yang meninggal selama hidupnya. Ia ditarikan oleh beberapa orang yang setiap orangnya membawa perisai besar, pedang dan sejumlah ornamen. Setiap objek menyimbolkan beberapa makna. Perisai yang dibuat dari kulit kerbau (bulalang) menyimbolkan kekayaan, karena hanya orang kaya yang memiliki kerbau sendiri. Pedang (doke, la’bo’ bulange, la’bo’ pinai, la’bo’ todolo) menunjukkan kesiapa untuk perang, yang menyimbolkan keberanian.
Selama tarian, para penari berteriak untuk menyemangati satu sama lain selama pertempuran. Penonton akan turut serta berteriak. Teriakan ini (peongli) terkadang bervariasi diberbagai tempat.
7. Tari Pajaga
Seperti namanya, tari Pajaga (Penjaga) dilakukan sebagai bentuk permohonan agar mendapat perlindungan dari Sang Pencipta. Melalui gerakan-gerakan yang ditampilkan para penari melakukan kultus sebagai pernyataan hubungan dan pengabdiannya kepada Yang Maha Kuasa agar mengabulkan permohonan-permohonan mereka.
Tari ini konon hadiri atas permintaan Batara Guru, Raja Luwu agar membuat tarian untuk menyenangkan Sang Pencipta. Atas permintaan tersebut maka maka dibuatlah serangkaian gerak gerak pemujaan dan permohonan, yang diiringi dengan tabuhan suara bunyi-bunyian.
Meski sekarang tari ini sudah tidak kental lagi unsur pemujaannya, namun gerakan yang dilakukan dan irama musik yang mengiringi belum banyak mengalami perubahan atau dengan kata lain masih mendekati keaslian.
Saat ini tari asal Tana Luwu ini telah menjadi menjadi hiburan dan penghormatan dan penyambutan kepada tamu-tamu yang berkunjung.

Sumber : http://www.kabarmakassar.com/