Namanya
Dg. Ngalle, lahir di kampung layang pannampu, Makassar. Pria yang kurang Fasih
berbahasa Indonesia ini kini tinggal sebatang kara, merasakan pedihnya hidup di
masa tuanya.
Sosok
yang sudah lupa umur ini sebenarnya punya tiga orang anak tapi mereka telah
hidup dengan pasangannya masing masing , sesekali mereka datang menjenguk sang
ayah.
Dg.
Ngalle sangat senang membicarakan mahasiswa - mahasiswa yang peduli atau iba
kepadanya. Namun raut wajahnya seketika berubah ketika bercerita tentang
birokrasi yang tidak peduli tentang pengabdiannya selama puluhan tahun.
Bagaimana
tidak, upah yang di peroleh Dg. ngalle per bulannya hanya 500 ribu saja. Yang
lebih miris lagi, ketika ia bekerja tidak ada makanan atau sekedar air minum
pelepas dahaga yang disediakan pihak kampus. tapi Itu semua tidak
menghalanginya untuk tetap senantiasa membersihkan halaman kampus II UPRI
Makassar. Bahkan jam kerja yang tidak menentu pun tak memudarkan semangatnya.
Betapa
hebat sosok yang satu ini, bahkan di usianya yang sudah tua dia tetap bekerja keras untuk bertahan hidup
tanpa terlalu/selalu mengharapkan putra dan putrinya untuk menafkahi hidupnya.
Ketika
ditanyakan Kenapa bapak tidak berhenti bekerja ? “karena kita ini sehari-hari makan.. “Anak
semua jauh, saya mungkin sudah mati kelaparan disini baru anak-anakku tahu”
ujar Dg. Ngalle sambil tertawa. (RK 084)
Penulis: Andi Malikul Mulki
Editor: Muh Sapri